Skip to main content

God's Surprise

Hari ini aku teringat kembali pada masa-masa aku sangat jenuh dengan kekasihku, Tama.
sebenarnya dia orang yang baik, namun kupikir kita terlalu lama menjalin hubungan sehingga masalah demi masalah datang, pun merubah karakter kami berdua.
Tama masih tetap bijak, namun terkadang posesif dan dia memiliki pemikiran yang sulit untuk aku mengerti, aku tau maksudnya baik, tapi aku tidak nyaman dengan hal itu.
Tama memiliki silsilah keluarga yang cukup rumit, dan sedikit menyedihkan, namun apa yang ia punya menurutku sudah cukup. Memiliki Mama yang baik, supel, pengertian & cantik, ia jg pekerja keras, mungkin Tama dapat sifat ini dari Mama nya. Tama juga punya Nenek yang sangaaaaat penyayang, membayangkannya saja membuatku ingin menangis karena rindu.

namun semua itu harus kulepaskan.
aku masih tidak mengerti apakah keputusan yang kini kuambil sudah benar? apa aku bahagia dengan keputusan ini?
setelah 1 bulan kuakhiri hubungan dengan Tama, aku berencana menikah dengan seseorang, Andri. seseorang yang sebenarnya sudah lama dekat denganku saat aku masih bersama Tama, ia pun tau hubungan kami. namun saat itu entah kenapa Tama enggan melepasku walaupun aku telah menyakitinya.

apakah ini ego?
saat itu aku berpikir bahwa menikah adalah keputusan yang tepat, karena menikah dengan Andri akan sedikit membantuku, karena aku hidup hanya berdua dengan kakak ku di Jakarta, aku pun masih kuliah sambil bekerja, pikirku itu akan membantu meringankan bebanku. lagipula Andri 3 tahun lebih tua dariku, pasti mempunyai pemikiran yang lebih dewasa.
namun itu merupakan awal perjalanan yang cuku sulit bagiku, karena banyak temanku yang kontra dengan hubungan yang kujalin dengan Andri, aku pun mengerti.

2 tahun pun berlalu, kini kami telah dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik dan menggemaskan, Kimmy.
aku tinggal bersama dengan kedua mertua ku bersama dengan Andri & Kimmy.
suasana di sini sangat tidak membuatku nyaman, mertua sering ribut, orang di sini ternyata memiliki kebiasaan yang tidak kusukai, yaitu berbicara lantang seperti berteriak.
pada dasarnya kedua mertua ku baik, Mama adalah orang yang rajin sholat & bersedekah, sering mengingatkan kami untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Papa adalah orang yang sabar & sayang keluarga. aku bisa melihatnya walaupun sifat itu kadang tidak terlihat karena terlalu sering ada pertikaian di dalam rumah ini.

aku sudah bosan mendengar Mama mertua ku meneriaki Papa mertua. seperti bukan Istri bahkan kata-kata nya sangat tidak pantas untuk didengar. Papa hanya diam, terkadang ia jg melawan, namun itu hanya sepatah dua patah kata. yang kutau Papa pernah menyakiti Mama, makanya hubungan mereka bisa seburuk ini. tapi Mama tidak mau cerai, namun ia terus memaki bila Papa ada salah & tidak jarang mengungkit masa lalu.
yang kudengar, sebelum kejadian itu juga mereka sudah sering bertengkar, sih.

Aku sangat tidak nyaman dengan kondisi rumah yang seperti ini, kupikir ini akan menjadi toxic untuk ku dan perkembangan Kimmy.
Aku sangat tidak nyaman dengan Mama mertua ku, sangat sangat tidak nyaman.
Dia adalah tipikal orang yang selalu mengkritik setiap perbuatan orang lain, sangat sensitif dengan kesalahan bahkan kesalahan kecil sedikitpun. Namun ia sangat tidak suka dikritik, padahal sifatnya juga buruk, semua orang tau itu. Ia sangat rajin ibadah dan bersedekah, namun kehidupan sosialnya hancur.
Ia sering tidak memikirkan perasaan orang lain saat berbicara, ia tidak mempedulikan hati orang lain yang mendengar ucapannya. seringkali aku dibuat sakit hati dengannya.
Bahkan aku menjadi orang yang pelit, aku hampir tidak pernah membelikan makanan ataupun barang kepadanya, sampai pernah ia mengungkitnya.
Aku mengakui hal tersebut, namun aku masih tidak dapat memberikan sesuatu yang ia tuntut, karena pernah suatu saat kami memberikannya makanan, untuk makanan ia sangat pilih-pilih, tidak sesuai selera atau kemanisan, ia pun lgsg memberi komentar dan aku pun tidak tau apakah itu dimakan nya atau tidak?
pernah sekali Aku dan Andri membelikannya tas oleh-oleh dari Jepang saat kami honeymoon, aku sengaja memberikannya tas yang sama dengan Ibu ku, namun beda warna.
tau hal tersebut, ia pun marah, karena tidak ingin memiliki barang yang samaan dengan orang lain.
pikirku, apakah hal itu sangat buruk sampai ia harus marah? dan, masalah besar kah memiliki tas yg sama dengan BESAN?
mungkin baginya itu hal yg sepele, namun bagiku sangat sakit mendengarnya bicara seperti itu.
tidak ada empati, tidak ada rasa terima kasih? apakah Ibu ku tidak pantas memiliki barang yg sama dengannya? itulah yg membuatku sedih dan tidak habis pikir.
Semenjak itu aku menjadi trauma membelikannya sesuatu, aku tidak memiliki banyak uang, bila aku membelikannya barang yang biasa, apakah ia akan merasa tidak puas? komentar apa yg diluncurkan? apakah barangnya dipakai? pikiran itu terus menerus ada di benakku saat aku ingin membelikannya sesuatu.
berbeda dengan Ibu ku, ia sangat menghargai setiap pemberian orang lain, ia tidak pernah menanyakan harga, menuntut sesuai seleranya, dll. apa yg diterima ia pasti senang, dan itu membuatku merasa dihargai dan senang karena telah memberikan sesuatu yang dibutuhkannya.

Comments

  1. Wah.. ini adalah tulisan ku tahun 2020 yang baru ku publish sekarang.. rupanya dulu saat menulis ini aku tidak langsung mem-publish nya

    ReplyDelete

Post a Comment